MWCNU Buaran | Portal Berita, Dakwah, NU Buaran
Ranting, Cabang, MWC

KH. Misbahul Huda Wafat di Usia 77 Tahun, Sosok Kiai Sederhana yang Mengabdikan Hidup untuk Pendidikan dan Masyarakat

MWCNU BUARAN • Saturday, 15 November 2025

Pemakaman KH. Misbahul Huda diikuti ratusan pentakziah

Buaran, — Kabar duka menyelimuti masyarakat Buaran dan sekitarnya. KH Misbahul Huda, seorang kiai kharismatik sekaligus akademisi yang dikenal luas sebagai pengayom masyarakat, wafat pada Rabu, 12 November 2025 dalam usia 77 tahun. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, santri, kolega, serta masyarakat yang selama ini merasakan bimbingan dan teladannya.

*Riwayat Hidup dan Latar Belakang*

KH Misbahul Huda lahir di Tonjong, Bumiayu, Brebes, dari pasangan KH Mahsus dan Hj Aisiyah. Sejak kecil, beliau tumbuh di lingkungan keluarga ulama yang disiplin dan religius, sehingga membentuk karakter keilmuan dan integritas spiritual sejak dini. Beliau merupakan adik dari sejumlah tokoh yang dikenal di Brebes dan Pekalongan, di antaranya H. Bazari Mahsus (alm), H. Hasan Bisri Mahsus (alm), dan H. Asnawi Mahsus (alm).

Dorongan kuat untuk menuntut ilmu mengantarkan beliau menimba pendidikan agama di Pondok Pesantren Termas, Pacitan, Jawa Timur—salah satu pesantren tertua di Indonesia yang melahirkan banyak ulama besar. Pendidikan tersebut menjadi fondasi utama perjalanan intelektual dan pengabdian beliau di kemudian hari.

Pada fase dewasa, KH Misbahul Huda menikah dengan Hj Khusnul Wati, putri dari tokoh Kelurahan Sapugarut, Buaran, H. Panjang Sari. Dari pernikahan ini, beliau dikaruniai empat anak—tiga putri dan satu putra—serta enam cucu.

*Pengabdian di Dunia Akademik dan Sosial Keagamaan*

Dalam karier profesionalnya, KH Misbahul Huda dikenal sebagai dosen PNS di IAIN Pekalongan hingga masa pensiun. Di lingkungan STAIN Pekalongan—nama institusi sebelum menjadi IAIN atau UIN Gus Dur—beliau pernah dipercaya menduduki jabatan Wakil Ketua III, sebuah posisi strategis yang berperan penting dalam pengembangan kelembagaan kampus.

Selain kiprahnya di dunia akademik, beliau aktif dalam organisasi keagamaan dan sosial kemasyarakatan. Beberapa amanah yang pernah diemban antara lain:

-Rais Syuriyah MWCNU Buaran (2013–2018)
-Musytasyar MWCNU Buaran (2023–2028)
-Penasehat Masjid Al-Uswah Sapugarut (2025–2029)
-Kepala SMK Islamiyah Buaran (2009–2019)


Salah satu kontribusi besar beliau adalah ikut menggagas pendirian SMK Islamiyah Buaran pada tahun 2009 bersama para masyayikh Sapugarut seperti KH Sholeh Jamhari, KH Shodiqin Dahlan, KH A. Syatho Khariri, dan Kyai Qomaruddin. Berawal dari sekitar 50 siswa, sekolah ini berkembang sangat pesat dan pada tahun ajaran 2025/2026 telah menampung lebih dari 1.500 siswa.

*Keteladanan dan Dedikasi untuk Generasi Muda*

KH Misbahul Huda dikenal sebagai pribadi sederhana, rendah hati, dan memiliki komitmen kuat dalam membina generasi muda. Beliau kerap memberikan motivasi kepada remaja agar tidak meninggalkan tradisi mengaji, memperdalam ilmu agama, serta aktif berperan dalam kegiatan kemasyarakatan.

Moto hidup yang sering beliau sampaikan, yakni hadis Nabi:
Khairunnâs anfa‘uhum linnâs” — Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya,
terbukti menjadi prinsip yang beliau jalankan dalam setiap aspek kehidupan.

*Prosesi Pemakaman dan Penghormatan Terakhir*

Ribuan pentakziyah memadati prosesi pemakaman KH Misbahul Huda. Masyarakat dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh agama, akademisi, santri, hingga masyarakat umum, hadir untuk memberikan penghormatan terakhir. Kehadiran mereka mencerminkan besarnya pengaruh dan kecintaan masyarakat kepada almarhum.

Sejumlah tokoh hadir dalam upacara takziah, di antaranya KH. Muslikh Khudhori (Ketua PCNU Kabupaten Pekalongan), H. Bisri Romli (tokoh masyarakat), KH. Nur Alif Wasnadi, dan KH. Ikrom Kamal.
Sambutan pengurus Masjid Al-Uswah dan MWCNU Buaran disampaikan oleh Kyai. M. Isbiq Syatho, sementara sambutan Ashabul Musibah diwakili Kyai Sholikhin Akhwan.
Imam jenazah dipimpin oleh KH. Ikrom Kamal, doa dipanjatkan oleh KH. Muslikh Khudhori, dan talqin dipimpin oleh Rais Syuriah PRNU Sapugarut, Kyai Murtadho.

Dalam sambutannya, Kyai. Isbiq menyatakan bahwa wafatnya KH. Misbahul Huda merupakan kehilangan besar bagi masyarakat Buaran, khususnya bagi para generasi muda yang selama ini mendapat banyak bimbingan dan arahan dari beliau.

*Pesan Ulama tentang Wafatnya Seorang Alim*

Imam Al-Ghazali dalam Ihyâ’ ‘Ulûmiddîn mengutip perkataan Sayyidina Ali karamallâhu wajhah:

"وَقَالَ عَلِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: اَلْعَالِمُ أَفْضَلُ مِنَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ الْمُجَاهِدِ، وَإِذَا مَاتَ الْعَالِمُ ثُلَّمَ فِي الْإِسْلاَمِ ثُلْمَةً لَا يَسُدُّهَا إِلَّا خَلْفٌ مِنْهُ "
“Jika seorang alim wafat, maka akan muncul celah dalam Islam yang tidak dapat ditutup kecuali oleh generasi penerusnya.”

Pesan tersebut menjadi renungan bahwa kepergian KH. Misbahul Huda merupakan kehilangan besar yang perlu dijawab dengan semangat meneruskan perjuangan para ulama: memperkuat ilmu, menjaga akhlak, serta mengabdi untuk kemaslahatan umat.

*Selamat Jalan, KH. Misbahul Huda*

Wafatnya KH. Misbahul Huda tidak hanya membawa duka mendalam, tetapi juga meninggalkan warisan teladan yang tak lekang oleh waktu. Masyarakat Buaran dan sekitarnya mengenang beliau sebagai sosok ulama yang teguh, bersahaja, dan sepenuhnya mengabdikan diri untuk ilmu, dakwah, dan pendidikan.

Selamat jalan, KH. Misbahul Huda.
Semoga Allah mempertemukanmu dengan para guru, para shalihin, dan para ulama yang mulia.
Kontributor: M. Isbiq Syatho'
Editor: REDAKTUR MWCNU BUARAN